Presbiopia merupakan perubahan fisiologis sistem penglihatan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Penurunan kemampuan akomodasi menyebabkan seseorang semakin sulit mempertahankan penglihatan dekat yang jelas. Bagi optometris, kondisi ini tidak cukup ditangani hanya dengan menentukan kekuatan lensa tambahan, tetapi memerlukan pemeriksaan refraksi, evaluasi kebutuhan visual, serta pemilihan koreksi yang sesuai dengan aktivitas dan karakteristik setiap pasien.
Presbiopia atau presbyopia merupakan kondisi penurunan kemampuan mata untuk memfokuskan objek dekat akibat perubahan terkait usia pada sistem akomodasi. Kondisi ini umumnya mulai dirasakan pada dekade keempat kehidupan, meskipun waktu munculnya keluhan dan tingkat gangguan dapat berbeda antarindividu.
Dalam praktik optometri, presbiopia sering dijumpai pada pasien yang mengeluhkan kesulitan membaca tulisan kecil, harus menjauhkan ponsel atau bahan bacaan, membutuhkan pencahayaan lebih terang, atau mengalami ketidaknyamanan setelah melakukan pekerjaan jarak dekat. Keluhan tersebut berkaitan dengan berkurangnya kemampuan mata mempertahankan fokus pada jarak kerja tertentu.
Presbiopia bukan kelainan refraksi yang berdiri sendiri seperti miopia, hipermetropia, atau astigmatisme. Kondisi ini merupakan perubahan fisiologis pada sistem akomodasi yang dapat terjadi bersamaan dengan kelainan refraksi lainnya. Karena itu, seseorang yang sebelumnya menggunakan kacamata minus maupun plus tetap dapat mengalami presbiopia ketika kemampuan akomodasinya menurun.
Perubahan Fisiologis yang Mendasari Presbiopia
Untuk memahami presbiopia, penting bagi optometris memahami mekanisme akomodasi normal. Ketika mata melihat objek dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan pada serabut zonula berkurang. Kondisi ini memungkinkan lensa kristalin menjadi lebih cembung dan meningkatkan daya refraksinya. Perubahan tersebut membantu mempertahankan bayangan objek dekat agar tetap terfokus pada retina.
Seiring bertambahnya usia, lensa kristalin mengalami perubahan biokimia, struktural, dan biomekanis. Lensa semakin kaku sehingga kemampuan mengubah bentuk sebagai respons terhadap rangsangan akomodasi berkurang. Perubahan juga terjadi pada kapsul lensa, aparatus zonula, dan hubungan mekanis antara komponen-komponen tersebut.
Penelitian modern menunjukkan bahwa presbiopia tidak semata-mata disebabkan oleh melemahnya otot siliaris. Perubahan sifat elastisitas dan kekakuan lensa kristalin merupakan bagian penting dari mekanisme terjadinya kondisi ini. Dengan demikian, presbiopia lebih tepat dipahami sebagai penurunan fungsi sistem akomodasi secara multifaktorial.
Tinjauan ilmiah Davies yang diterbitkan dalam Ophthalmic and Physiological Optics pada 2026 menjelaskan perkembangan pemahaman mengenai presbiopia, termasuk perubahan biomekanis lensa, kapsul, dan aparatus zonula. Publikasi tersebut juga membahas perkembangan pendekatan koreksi optik, farmakologis, dan bedah.
Manifestasi Klinis dan Pertimbangan Pemeriksaan
Keluhan yang paling sering berkaitan dengan presbiopia adalah penurunan kenyamanan penglihatan dekat. Pasien dapat mengalami kesulitan membaca, melihat tulisan pada layar telepon, melakukan pekerjaan tangan, atau mempertahankan fokus ketika bekerja dalam jarak dekat. Sebagian pasien juga mengeluhkan mata lelah dan sakit kepala setelah aktivitas visual berkepanjangan.
Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk presbiopia. Gangguan permukaan mata, kelainan refraksi yang belum terkoreksi, gangguan akomodasi lainnya, serta penyakit mata tertentu juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Oleh karena itu, penentuan presbiopia harus didasarkan pada pemeriksaan, bukan hanya usia dan keluhan pasien.
Pemeriksaan sebaiknya diawali dengan anamnesis mengenai riwayat penggunaan kacamata, perubahan kemampuan membaca, jarak kerja yang biasa digunakan, jenis pekerjaan, durasi aktivitas dekat, serta keluhan visual yang menyertai.
Pemeriksaan ketajaman penglihatan jauh dan dekat menjadi bagian penting untuk mengetahui kemampuan visual pasien. Pemeriksaan refraksi jauh perlu dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengoreksi kelainan refraksi yang menyertai. Penilaian kebutuhan tambahan untuk dekat selanjutnya dilakukan setelah status refraksi jauh dievaluasi.
Pada pasien tertentu, pemeriksaan refraksi sikloplegik dapat dipertimbangkan oleh tenaga medis yang berwenang, terutama apabila terdapat dugaan komponen hipermetropia laten atau hasil refraksi yang tidak konsisten.
Penentuan tambahan dekat (near addition) tidak seharusnya hanya mengandalkan tabel usia. Kebutuhan tersebut perlu disesuaikan dengan ketajaman penglihatan dekat yang diharapkan, jarak kerja, kebutuhan aktivitas, serta kenyamanan pasien.
Sebagai contoh, kebutuhan optik seseorang yang membaca pada jarak 40 cm berbeda dengan seseorang yang bekerja menggunakan monitor pada jarak 70–80 cm. Secara teoritis, kebutuhan vergensi optik untuk jarak 40 cm adalah 2,50 dioptri, sedangkan pada jarak 80 cm sebesar 1,25 dioptri. Angka tersebut menggambarkan kebutuhan fokus berdasarkan jarak objek, bukan otomatis menjadi nilai lensa tambahan yang harus diresepkan.
Setelah pemeriksaan refraksi, optometris perlu mengevaluasi respons pasien terhadap koreksi dekat pada jarak kerja sebenarnya. Pemeriksaan binokular, keseimbangan kedua mata, serta kemampuan mempertahankan kenyamanan visual juga perlu dipertimbangkan sesuai indikasi.
Presbiopia dan Kelainan Refraksi Lain
Salah satu aspek penting dalam praktik refraksi adalah mengenali bahwa presbiopia dapat terjadi bersamaan dengan kelainan refraksi lainnya.
Pada pasien hipermetropia, kebutuhan akomodasi untuk melihat dekat dapat menjadi lebih besar. Ketika cadangan akomodasi menurun akibat usia, keluhan penglihatan dekat dapat menjadi semakin nyata. Pada pasien miopia, sebagian kemampuan melihat dekat tanpa kacamata mungkin masih dapat dipertahankan dengan melepas koreksi jauhnya. Namun, ketika koreksi miopia digunakan, kebutuhan tambahan dekat dapat mulai dirasakan.
Astigmatisme juga dapat menyertai presbiopia dan menyebabkan kualitas penglihatan tidak optimal apabila komponen silinder tidak dikoreksi secara tepat.
Oleh karena itu, penentuan ukuran kacamata baca tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan status refraksi jauh. Koreksi yang hanya mempertimbangkan kebutuhan dekat berpotensi menghasilkan penglihatan yang kurang optimal pada aktivitas lain.
Penelitian Sriyanti, Rini, dan Ratnaningsih yang diterbitkan dalam Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia pada 2023 memberikan gambaran mengenai kondisi tersebut. Dari 2.274 peserta program pemeriksaan mata berbasis komunitas Rumah Sakit Mata Cicendo selama 2022, sebanyak 810 orang teridentifikasi mengalami kelainan refraksi dan/atau presbiopia. Dalam kelompok tersebut, presbiopia merupakan diagnosis yang paling banyak ditemukan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa gangguan penglihatan dekat dapat terjadi akibat presbiopia yang berdiri sendiri maupun yang disertai kelainan refraksi lainnya.
Data tersebut merupakan hasil pemeriksaan pada kelompok peserta program komunitas, bukan estimasi prevalensi presbiopia seluruh penduduk Indonesia. Meskipun demikian, temuan ini memperlihatkan pentingnya pemeriksaan refraksi yang menyeluruh pada kelompok usia dewasa.
Pendekatan Koreksi dalam Praktik Optometri
Koreksi presbiopia bertujuan menyediakan kualitas penglihatan yang memadai pada jarak dan aktivitas yang dibutuhkan pasien. Pemilihan lensa harus mempertimbangkan kebutuhan visual, status refraksi, kenyamanan binokular, serta kemampuan adaptasi.
Kacamata baca dengan lensa positif merupakan salah satu pendekatan yang paling sederhana. Lensa ini membantu meningkatkan daya optik untuk penglihatan dekat, terutama pada pasien yang membutuhkan koreksi untuk aktivitas membaca atau pekerjaan jarak dekat. Namun, kacamata baca tunggal tidak dirancang untuk memberikan koreksi optimal pada seluruh jarak pandang.
Lensa bifokal menyediakan dua zona optik untuk kebutuhan jauh dan dekat. Sementara itu, lensa progresif memungkinkan perubahan daya secara bertahap sehingga dapat digunakan untuk berbagai jarak pandang, termasuk jarak menengah. Pemilihan desain perlu disesuaikan dengan kebiasaan penggunaan, kebutuhan pekerjaan, ukuran bingkai, posisi pemasangan, dan kemampuan adaptasi pasien.
Pada pasien yang banyak menggunakan komputer, kebutuhan penglihatan menengah perlu mendapat perhatian khusus. Kacamata progresif umum belum tentu memberikan zona kerja menengah yang paling sesuai untuk seluruh aktivitas digital. Lensa khusus pekerjaan atau desain progresif yang disesuaikan dengan jarak monitor dapat menjadi pilihan berdasarkan hasil evaluasi.
Lensa kontak multifokal dan pendekatan monovision juga dapat digunakan pada pasien terpilih. Akan tetapi, keduanya membutuhkan evaluasi toleransi visual, kualitas penglihatan binokular, kondisi permukaan mata, dan kemampuan adaptasi.
Pilihan lain berupa koreksi bedah dan terapi farmakologis telah berkembang. Namun, pendekatan tersebut memiliki indikasi, keterbatasan, dan risiko masing-masing serta tidak dapat diposisikan sebagai pengganti universal koreksi optik.
Perkembangan Terapi dan Bukti Ilmiah
Penatalaksanaan presbiopia terus mengalami perkembangan. Selain kacamata dan lensa kontak, penelitian dalam beberapa tahun terakhir mengevaluasi penggunaan obat tetes mata golongan miotik untuk membantu meningkatkan penglihatan dekat.
Salah satu pendekatan farmakologis adalah penggunaan pilokarpin topikal. Obat ini bekerja dengan menyebabkan konstriksi pupil sehingga dapat meningkatkan kedalaman fokus melalui efek pinhole. Mekanisme tersebut dapat membantu penglihatan dekat pada sebagian pasien, tetapi tidak berarti mengembalikan elastisitas lensa atau memulihkan akomodasi fisiologis seperti pada mata muda.
Ulasan Katz dan kolega yang diterbitkan dalam Clinical Ophthalmology pada 2021 membahas berbagai pilihan koreksi presbiopia, termasuk terapi farmakologis, lensa kontak, dan tindakan bedah. Penulis juga menyoroti keterbatasan efektivitas dan aksesibilitas berbagai metode koreksi.
Dalam perkembangan berikutnya, Davies pada 2026 menguraikan kemajuan terapi miotik topikal, penelitian awal mengenai agen yang ditujukan untuk memodifikasi kekakuan lensa, serta inovasi desain lensa progresif, multifokal, dan extended depth of focus.
Walaupun perkembangan tersebut menjanjikan, bukti mengenai efektivitas jangka panjang, keamanan, ketahanan hasil, dan kesesuaian terapi pada berbagai kelompok pasien masih perlu terus dievaluasi. Status persetujuan obat dan ketersediaannya juga berbeda antarnegara. Optometris tidak seharusnya merekomendasikan penggunaan obat tetes presbiopia tanpa evaluasi serta kewenangan medis yang sesuai.
Peran Optometris dalam Pelayanan Presbiopia
Dalam pelayanan kesehatan mata, presbiopia memerlukan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan fungsional pasien. Dua orang dengan usia dan kebutuhan tambahan dekat yang sama belum tentu memperoleh hasil terbaik menggunakan desain lensa yang identik.
Optometris perlu memahami jenis pekerjaan, jarak membaca, durasi penggunaan layar, kebutuhan penglihatan menengah, aktivitas luar ruangan, serta kebiasaan menggunakan kacamata. Informasi tersebut membantu menentukan jenis koreksi yang lebih sesuai.
Selain menentukan koreksi, edukasi mengenai penggunaan kacamata juga penting. Pasien perlu memahami perbedaan fungsi kacamata baca tunggal, bifokal, dan progresif. Pada pengguna lensa progresif, penyesuaian posisi kepala, arah pandangan, dan pemanfaatan zona lensa merupakan bagian dari proses adaptasi.
Keluhan yang tidak membaik setelah koreksi, penurunan tajam penglihatan yang tidak dapat dijelaskan oleh kelainan refraksi, atau temuan abnormal pada pemeriksaan kesehatan mata memerlukan evaluasi lebih lanjut. Gangguan penglihatan yang muncul mendadak, diplopia baru, nyeri mata berat, atau perubahan lapang pandang tidak boleh langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Pada akhirnya, presbiopia bukan sekadar persoalan penambahan kekuatan lensa positif. Kondisi ini merupakan perubahan fisiologis sistem akomodasi yang memerlukan pemahaman mengenai status refraksi, kebutuhan penglihatan, serta kualitas fungsi visual pasien. Ketepatan pemeriksaan dan pemilihan koreksi yang individual menjadi bagian penting dari pelayanan optometri yang profesional dan berbasis bukti ilmiah.
Referensi Ilmiah
- Davies LN. Presbyopia: Current Perspectives and Prospects for Patients. Ophthalmic and Physiological Optics. 2026;46:1315–1326. DOI: https://doi.org/10.1007/s44402-026-00083-7
- Wolffsohn JS, Davies LN, Sheppard AL. New insights in presbyopia: impact of correction strategies. BMJ Open Ophthalmology. 2023. DOI: https://doi.org/10.1136/bmjophth-2022-001122
- Katz JA, Karpecki PM, Dorca A, et al. Presbyopia – A Review of Current Treatment Options and Emerging Therapies. Clinical Ophthalmology. 2021;15:2167–2178. DOI: https://doi.org/10.2147/OPTH.S259011
- Kollbaum PS, Bradley A. Correction of presbyopia: old problems with old (and new) solutions. Clinical and Experimental Optometry. 2020;103(1):21–30. DOI: https://doi.org/10.1111/cxo.12987
- Sriyanti N, Rini M, Ratnaningsih N. Karakteristik Penderita Kelainan Refraksi dan Presbiopia yang Terjaring Program Pemeriksaan Mata Berbasis Komunitas. Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia. 2023;5(2). DOI: https://doi.org/10.11594/ojkmi.v5i2.53
- Kholil M. Pemeriksaan Refraksi Subjektif pada Penderita Presbiopia dengan Status Refraksi Hipermetropia di Optik Pandanaran Semarang. Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan. 2022;6(1):43–46. DOI: https://doi.org/10.33655/mak.v6i1.136
