Teknologi lensa kacamata dan lensa kontak mengalami perkembangan yang signifikan seiring kemajuan ilmu optik, material polimer, teknologi manufaktur, dan penelitian klinis. Lensa kacamata berkembang dari desain konvensional menjadi lensa asferis, freeform, progresif individual, serta lensa khusus untuk pengendalian progresivitas miopia. Sementara itu, lensa kontak mengalami perubahan pada material hidrogel dan silikon hidrogel, desain torik dan multifokal, sistem pemakaian sekali pakai, ortokeratologi, serta teknologi yang ditujukan untuk pengendalian miopia. Penelitian juga mengembangkan lensa kontak pintar yang berpotensi digunakan untuk pemantauan biomarker dan penghantaran obat. Namun, tidak seluruh inovasi tersebut telah tersedia atau terbukti aman dan efektif untuk penggunaan klinis rutin. Artikel ini membahas perkembangan teknologi lensa kacamata dan lensa kontak berdasarkan literatur ilmiah, dengan penekanan pada prinsip kerja, bukti klinis, keterbatasan, serta implikasinya terhadap praktik Refraksionis Optisien dan pelayanan optometri.
Perkembangan teknologi koreksi penglihatan tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu optik dan material. Lensa kacamata dan lensa kontak yang dahulu terutama digunakan untuk mengoreksi miopia, hipermetropia, astigmatisme, dan presbiopia, kini memiliki desain dan fungsi yang semakin beragam.
Pada lensa kacamata, inovasi berlangsung melalui pengembangan material dengan indeks refraksi berbeda, desain permukaan asferis, teknologi pemrosesan freeform, lensa progresif individual, serta desain khusus untuk membantu memperlambat progresivitas miopia pada anak.
Pada lensa kontak, perkembangan mencakup peningkatan permeabilitas oksigen, perbaikan karakteristik permukaan, desain optik multifokal, lensa torik, sistem penggantian harian, dan ortokeratologi. Selain fungsi koreksi refraksi, penelitian juga mengeksplorasi penggunaan lensa kontak sebagai perangkat penghantaran obat dan sensor biologis.
Perubahan tersebut menuntut tenaga optometri dan Refraksionis Optisien untuk memahami bukan hanya spesifikasi produk, tetapi juga prinsip optik, karakteristik material, bukti efektivitas, keterbatasan teknologi, serta faktor keselamatan pemakai.
Perkembangan Teknologi Lensa Kacamata
Dari desain sferis menuju asferis dan freeform
Lensa kacamata konvensional banyak menggunakan desain permukaan sferis, yaitu permukaan dengan kelengkungan yang relatif seragam. Desain tersebut telah lama digunakan untuk mengoreksi kelainan refraksi dan masih memiliki peran penting dalam pelayanan optik.
Namun, lensa sferis dapat menimbulkan penyimpangan optik ketika pandangan melewati bagian perifer lensa. Pada kondisi tertentu, hal ini dapat menyebabkan astigmatisme oblik, perubahan daya efektif, serta distorsi bayangan. Pengaruhnya dapat lebih terasa pada resep berkekuatan tinggi dan pada posisi pemakaian yang tidak standar.
Pengembangan lensa asferis menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki karakteristik tersebut. Permukaan asferis memiliki perubahan kelengkungan yang dirancang untuk mengendalikan distribusi daya optik. Selain berpotensi mengurangi ketebalan lensa, desain ini dapat memperbaiki karakteristik optik pada kondisi tertentu dibandingkan lensa sferis dengan parameter yang sebanding.
Tahap berikutnya adalah teknologi freeform. Teknologi ini menggunakan pemrosesan permukaan secara presisi dengan bantuan perangkat digital dan algoritma perancangan. Permukaan lensa dapat dioptimalkan berdasarkan resep refraksi serta parameter pemakaian, seperti jarak verteks, pantoscopic tilt, face-form angle, dan karakteristik bingkai.
Pada lensa progresif, teknologi freeform memungkinkan pengaturan distribusi daya dari zona jauh menuju zona dekat. Pada desain individual, parameter pemakai dapat dimasukkan ke dalam proses perancangan untuk menyesuaikan karakteristik optik lensa dengan posisi pemakaian.
Meskipun demikian, freeform tidak otomatis menghasilkan penglihatan terbaik bagi setiap orang. Ketepatan data pengukuran, kualitas manufaktur, desain yang dipilih, dan kesesuaian dengan kebutuhan visual tetap menentukan hasil akhir.
Kajian sistematis Li, Wu, dan He (2026) mengenai desain Progressive Addition Lens (PAL) mengidentifikasi perkembangan teknologi freeform sebagai salah satu kemajuan utama dalam desain lensa progresif. Kajian tersebut juga menyoroti pengembangan algoritma pengendalian astigmatisme permukaan dan metode evaluasi performa optik yang lebih terukur. Namun, standardisasi pemasangan serta pemahaman mengenai adaptasi pemakai masih menjadi tantangan penelitian.
Perkembangan material lensa kacamata
Material merupakan salah satu faktor yang menentukan karakteristik lensa kacamata. Pemilihan material berpengaruh terhadap indeks refraksi, ketebalan, berat, ketahanan terhadap benturan, dispersi cahaya, serta karakteristik pemakaian.
Beberapa material yang umum digunakan antara lain:
- CR-39: material resin yang banyak digunakan untuk lensa koreksi umum, dengan karakteristik optik yang baik dan nilai Abbe relatif tinggi.
- Polycarbonate: memiliki ketahanan terhadap benturan yang baik dan relatif ringan. Material ini sering digunakan untuk kebutuhan tertentu yang memerlukan pertimbangan keselamatan.
- Trivex: material dengan karakteristik ringan, ketahanan benturan, dan nilai Abbe yang relatif baik.
- High-index resin: material dengan indeks refraksi lebih tinggi yang dapat membantu mengurangi ketebalan lensa pada resep tertentu.
Pemilihan material tidak sebaiknya hanya didasarkan pada indeks refraksi. Nilai Abbe, desain permukaan, ketebalan, ukuran bingkai, posisi lensa, dan kebutuhan aktivitas pemakai juga harus dipertimbangkan.
Material dengan indeks refraksi tinggi, misalnya, dapat menghasilkan lensa yang lebih tipis pada resep tertentu, tetapi umumnya mempunyai dispersi lebih tinggi dibandingkan material dengan nilai Abbe yang lebih besar. Oleh sebab itu, hasil visual tidak dapat dinilai hanya dari angka indeks refraksi.
Teknologi lensa progresif
Lensa progresif atau Progressive Addition Lens (PAL) merupakan salah satu perkembangan penting dalam koreksi presbiopia. Lensa ini menyediakan koreksi penglihatan jauh, menengah, dan dekat tanpa garis segmentasi yang terlihat.
Perkembangan desain PAL mencakup pengaturan panjang koridor, distribusi daya, pengendalian astigmatisme perifer, serta pemanfaatan teknologi freeform untuk menghasilkan desain individual.
Desain PAL modern dapat mempertimbangkan parameter pemakai dan karakteristik bingkai. Tujuannya adalah meningkatkan kesesuaian antara zona penglihatan dengan arah pandang ketika lensa digunakan.
Namun, lensa progresif memiliki karakteristik optik yang berbeda dari lensa single vision. Area perifer dapat mengandung astigmatisme tidak diinginkan sehingga sebagian pemakai memerlukan adaptasi. Ketepatan pemeriksaan refraksi, penentuan addisi, pengukuran pupillary distance, fitting height, dan penyesuaian bingkai tetap menjadi faktor penting.
Lensa kacamata untuk pengendalian progresivitas miopia
Salah satu perkembangan penting dalam teknologi lensa kacamata adalah desain yang ditujukan untuk memperlambat progresivitas miopia pada anak dan remaja.
Lensa single vision konvensional mengoreksi penglihatan sentral, tetapi tidak secara khusus dirancang untuk memodifikasi pola defokus retina perifer. Penelitian mengenai hubungan defokus retina dan pertumbuhan panjang aksial bola mata kemudian mendorong pengembangan desain lensa khusus untuk pengendalian miopia.
Beberapa teknologi yang telah diteliti antara lain:
Defocus Incorporated Multiple Segments (DIMS)
Desain DIMS memiliki zona sentral untuk koreksi penglihatan jauh yang dikelilingi segmen-segmen kecil dengan daya positif tambahan. Segmen tersebut dirancang untuk menghasilkan defokus miopik pada area retina tertentu, sementara zona sentral mempertahankan penglihatan yang jelas.
Highly Aspherical Lenslet (HAL)
Desain HAL menggunakan susunan elemen lensa kecil berbentuk asferis. Elemen tersebut dirancang untuk menghasilkan pola defokus yang ditujukan memengaruhi perkembangan panjang aksial mata.
Cylindrical Annular Refractive Elements (CARE)
CARE merupakan desain yang menggunakan elemen refraktif berbentuk cincin silindris untuk menghasilkan distribusi defokus tertentu. Efektivitas dan penerapannya perlu dinilai berdasarkan bukti klinis pada desain produk yang diteliti.
Penelitian mengenai teknologi tersebut terus berkembang. Tinjauan sistematis dan meta-analisis D’Andrea dkk. yang dipublikasikan pada 2026 menganalisis 23 uji klinis acak dengan total 13.315 peserta. Dibandingkan lensa single vision, kelompok yang menggunakan lensa khusus pengendalian miopia menunjukkan penurunan progresivitas spherical equivalent dan pertambahan panjang aksial secara bermakna. Dalam analisis tersebut, desain HAL dan DIMS memperlihatkan hasil yang menjanjikan, meskipun jumlah penelitian dan kekuatan bukti untuk masing-masing desain tidak sama.
Temuan ini mendukung penggunaan lensa khusus sebagai salah satu pilihan dalam pengelolaan miopia anak. Namun, lensa tersebut bukan sarana untuk menghilangkan miopia atau menjamin bahwa progresivitas akan berhenti sepenuhnya. Pemantauan refraksi dan panjang aksial tetap diperlukan sesuai kondisi pasien.
Coating dan perlindungan permukaan lensa
Selain perkembangan desain dan material, teknologi pelapisan permukaan juga mengalami kemajuan. Beberapa jenis coating yang umum digunakan meliputi:
- Antireflection coating: mengurangi pantulan cahaya pada permukaan lensa.
- Hard coating: meningkatkan ketahanan permukaan terhadap goresan, meskipun tidak membuat lensa sepenuhnya tahan gores.
- Hydrophobic coating: membantu mengurangi penempelan air pada permukaan.
- Oleophobic coating: membantu mengurangi penempelan minyak dan memudahkan pembersihan.
- UV protection: mengurangi transmisi radiasi ultraviolet sesuai karakteristik material dan lapisan yang digunakan.
- Photochromic technology: memungkinkan lensa berubah tingkat kegelapannya ketika terpapar radiasi atau cahaya tertentu, bergantung pada teknologi materialnya.
Teknologi penyaringan cahaya biru juga banyak ditawarkan pada produk lensa. Namun, klaim bahwa semua lensa penyaring cahaya biru dapat mencegah kerusakan retina atau mengatasi kelelahan mata digital tidak didukung secara konsisten oleh bukti klinis. Rekomendasi penggunaannya harus mempertimbangkan tujuan, karakteristik produk, dan kualitas bukti yang tersedia.
Perkembangan Teknologi Lensa Kontak
Perubahan material: dari hidrogel menuju silikon hidrogel
Perkembangan lensa kontak modern sangat dipengaruhi oleh kemajuan material. Lensa kontak lunak generasi awal menggunakan material hidrogel yang mengandung air dan memiliki karakteristik fleksibel sehingga dapat menyesuaikan diri dengan permukaan kornea.
Namun, kebutuhan oksigen kornea menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penggunaan lensa kontak. Kornea memperoleh sebagian besar oksigennya dari lingkungan melalui lapisan air mata dan udara ketika mata terbuka. Lensa kontak yang membatasi suplai oksigen dapat meningkatkan risiko komplikasi hipoksia, terutama pada kondisi pemakaian yang tidak sesuai.
Pengembangan material silikon hidrogel (SiHy) menjadi perubahan besar dalam teknologi lensa kontak lunak. Penambahan komponen silikon meningkatkan kemampuan material dalam menghantarkan oksigen dibandingkan banyak material hidrogel konvensional.
Meskipun demikian, permeabilitas oksigen yang tinggi bukan satu-satunya penentu kenyamanan dan keselamatan. Karakteristik permukaan, modulus atau kekakuan material, kadar air, desain tepi, mobilitas lensa, dan interaksi dengan lapisan air mata tetap perlu diperhatikan.
Walsh dkk. (2025), dalam tinjauan mengenai 25 tahun perkembangan silikon hidrogel, menjelaskan bahwa material ini telah mengubah praktik pemasangan lensa kontak lunak. Silikon hidrogel tersedia dalam berbagai desain dan sistem penggantian, termasuk lensa harian, torik, dan multifokal. Kajian tersebut juga menegaskan bahwa persoalan kenyamanan, kekeringan, dan respons permukaan mata masih memerlukan perhatian klinis.
Dengan demikian, silikon hidrogel tidak boleh dianggap otomatis lebih nyaman untuk semua pemakai. Pemilihan material harus didasarkan pada evaluasi kondisi mata, kebutuhan pemakaian, dan respons individu.
Perkembangan desain lensa kontak
Selain material, desain lensa kontak juga mengalami perkembangan untuk memenuhi kebutuhan koreksi yang semakin beragam.
Lensa kontak sferis
Digunakan untuk mengoreksi miopia dan hipermetropia. Desain ini merupakan salah satu bentuk koreksi lensa kontak yang paling umum.
Lensa kontak torik
Dirancang untuk mengoreksi astigmatisme. Desainnya mempertimbangkan kestabilan orientasi lensa pada mata agar sumbu koreksi tetap berada pada posisi yang sesuai.
Lensa kontak multifokal
Dikembangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan penglihatan jauh dan dekat, terutama pada pemakai presbiopia. Desain optiknya dapat menggunakan zona konsentris, asferis, atau pendekatan optik lainnya.
Lensa kontak rigid gas permeable (RGP)
Material RGP memungkinkan transmisi oksigen dan mempertahankan bentuk lensa ketika digunakan. Lensa ini dapat memberikan kualitas optik yang baik pada kondisi tertentu, termasuk sebagian kasus astigmatisme kornea dan kelainan bentuk kornea.
Lensa kontak sklera
Lensa sklera memiliki diameter lebih besar dan bertumpu pada bagian sklera, dengan ruang berisi cairan di antara lensa dan kornea. Desain ini digunakan pada indikasi tertentu, termasuk beberapa kasus kelainan permukaan kornea dan kornea ireguler.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan lensa kontak tidak dapat hanya berdasarkan ukuran minus atau plus. Evaluasi parameter kornea, kondisi lapisan air mata, diameter, base curve, diameter zona optik, pergerakan, sentrasi, dan karakteristik permukaan mata perlu menjadi bagian dari proses fitting.
Lensa kontak sekali pakai dan sistem penggantian
Perubahan lain dalam teknologi lensa kontak adalah perkembangan sistem penggantian. Saat ini tersedia lensa kontak harian sekali pakai, dua mingguan, bulanan, serta desain dengan jadwal penggantian khusus sesuai petunjuk produsen.
Lensa harian sekali pakai memungkinkan pengguna menggunakan lensa baru setiap hari tanpa proses penyimpanan dan pembersihan untuk pemakaian berikutnya. Sistem ini dapat mengurangi sebagian risiko yang berkaitan dengan wadah penyimpanan dan penggunaan larutan perawatan berulang.
Namun, lensa harian tidak berarti bebas risiko. Kebersihan tangan, larangan penggunaan saat tidur kecuali secara khusus diindikasikan dan disetujui untuk penggunaan tersebut, serta kepatuhan terhadap petunjuk pemakaian tetap diperlukan.
Pemakaian lensa melebihi jadwal penggantian atau penggunaan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk keratitis mikroba. Oleh karena itu, edukasi kebersihan dan tindak lanjut pemakai tetap menjadi bagian penting pelayanan lensa kontak.
Ortokeratologi dan pengendalian miopia
Ortokeratologi atau orthokeratology (Ortho-K) merupakan metode penggunaan lensa kontak rigid gas permeable yang dirancang untuk dipakai ketika tidur. Desain lensa memberikan perubahan bentuk sementara pada epitel kornea sehingga kelainan refraksi dapat berkurang pada saat lensa dilepas.
Selain menghasilkan koreksi penglihatan sementara pada siang hari, ortokeratologi juga telah diteliti sebagai salah satu metode pengendalian progresivitas miopia. Perubahan pola defokus retina yang terjadi setelah penggunaan lensa diduga berperan dalam memengaruhi pertumbuhan panjang aksial mata.
Bukti klinis menunjukkan bahwa ortokeratologi dapat memperlambat pertambahan panjang aksial pada sebagian anak dengan miopia. Namun, hasilnya dipengaruhi oleh usia, karakteristik awal mata, kepatuhan, desain lensa, dan durasi pemantauan.
Penggunaan lensa saat tidur juga memerlukan perhatian khusus terhadap kebersihan dan keselamatan. Risiko keratitis mikroba merupakan salah satu komplikasi serius yang harus dipertimbangkan. Karena itu, ortokeratologi membutuhkan seleksi pasien, fitting profesional, edukasi yang ketat, dan pemantauan berkala.
Ortokeratologi tidak boleh diperlakukan sebagai metode kosmetik atau sekadar cara agar seseorang tidak perlu memakai kacamata pada siang hari. Penggunaannya untuk pengendalian miopia harus menjadi bagian dari program pengelolaan miopia yang terukur.
Lensa kontak untuk pengendalian miopia
Selain ortokeratologi, lensa kontak lunak multifokal dan dual-focus juga dikembangkan untuk membantu mengendalikan progresivitas miopia.
Desain tersebut menggunakan distribusi daya optik yang berbeda pada beberapa zona lensa. Sebagian area menyediakan koreksi penglihatan sentral, sementara area lainnya menghasilkan defokus miopik yang ditujukan untuk memengaruhi pertumbuhan bola mata.
Penelitian BLINK dan berbagai uji klinis lainnya telah memberikan bukti bahwa beberapa desain lensa kontak multifokal atau dual-focus dapat memperlambat progresivitas miopia pada anak.
Tinjauan mengenai intervensi optik untuk pengendalian miopia yang diterbitkan pada 2023 menyimpulkan bahwa lensa kontak lunak khusus dan ortokeratologi memiliki potensi memperlambat pertumbuhan panjang aksial. Namun, besarnya efek berbeda menurut desain, populasi, dan lama penelitian.
Penting untuk membedakan lensa kontak multifokal yang dirancang untuk presbiopia dari lensa multifokal yang dirancang untuk pengendalian miopia. Keduanya dapat memiliki karakteristik optik yang berbeda dan tidak dapat dipertukarkan hanya berdasarkan istilah multifokal.
Lensa Kontak Pintar: Dari Koreksi Penglihatan Menuju Perangkat Biomedis
Salah satu bidang penelitian yang berkembang adalah smart contact lens atau lensa kontak pintar. Teknologi ini menggabungkan material lensa kontak dengan komponen sensor, sistem elektronik, atau material fungsional lainnya.
Secara konseptual, lensa kontak pintar dikembangkan untuk memiliki fungsi tambahan di luar koreksi penglihatan. Beberapa arah penelitian meliputi:
Pemantauan biomarker air mata
Air mata mengandung berbagai molekul biologis yang dapat menjadi objek penelitian, termasuk glukosa, elektrolit, protein, dan penanda inflamasi. Sensor yang terintegrasi pada lensa kontak sedang dikembangkan untuk mendeteksi perubahan biomarker tersebut.
Namun, pengukuran biomarker dalam air mata tidak otomatis dapat menggantikan pemeriksaan darah atau metode diagnostik standar. Hubungan antara kadar biomarker air mata dan kondisi sistemik harus divalidasi secara klinis.
Penghantaran obat
Lensa kontak juga diteliti sebagai media penghantaran obat ke permukaan mata. Material tertentu dapat dirancang untuk melepaskan zat aktif secara bertahap sehingga berpotensi memperpanjang kontak obat dengan permukaan okular.
Meskipun menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi tantangan terkait kestabilan obat, dosis, kecepatan pelepasan, biokompatibilitas, dan keamanan penggunaan jangka panjang.
Sensor dan teknologi optoelektronik
Penelitian lain mengembangkan integrasi sensor dan komponen optoelektronik untuk mendukung pemantauan kondisi mata atau fungsi tambahan tertentu.
Sebagian besar teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian laboratorium, praklinis, atau pengujian klinis awal. Karena itu, smart contact lens tidak dapat diposisikan sebagai perangkat pemeriksaan rutin atau alat diagnosis mandiri tanpa bukti validasi dan persetujuan regulator yang sesuai.
Perbandingan Perkembangan Teknologi Lensa Kacamata dan Lensa Kontak
Kedua jenis lensa mempunyai tujuan dasar yang sama, yaitu membantu koreksi penglihatan. Namun, karakteristik penggunaan, teknologi, dan aspek keselamatannya berbeda.
| Aspek | Lensa Kacamata | Lensa Kontak |
|---|---|---|
| Posisi koreksi | Berada di depan mata dan terpasang pada bingkai kacamata. | Ditempatkan langsung pada permukaan kornea dengan lapisan air mata sebagai antarmuka. |
| Material | Menggunakan material kaca atau polimer, seperti CR-39, polikarbonat, Trivex, dan resin indeks tinggi. | Menggunakan material hidrogel, silikon hidrogel, serta material rigid gas permeable (RGP). |
| Desain optik | Meliputi desain sferis, asferis, freeform, bifokal, progresif, dan desain khusus pengendalian miopia. | Meliputi desain sferis, torik, multifokal, RGP, skleral, dan ortokeratologi. |
| Personalisasi | Dapat disesuaikan dengan resep refraksi, parameter pemasangan, posisi pemakaian, dan kebutuhan aktivitas visual. | Memerlukan penyesuaian parameter seperti kelengkungan dasar, diameter, desain, material, serta karakteristik permukaan mata. |
| Perawatan | Memerlukan pembersihan berkala dan perlindungan dari goresan atau kerusakan lapisan lensa. | Memerlukan kebersihan tangan, prosedur perawatan sesuai jenis lensa, dan kepatuhan terhadap jadwal penggantian. |
| Pertimbangan klinis | Perlu memperhatikan ketepatan koreksi, posisi bingkai, kualitas optik, dan kenyamanan pemakaian. | Perlu memperhatikan kesehatan kornea, kualitas lapisan air mata, kecocokan lensa, kebersihan, serta lama pemakaian. |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis lensa yang selalu lebih unggul untuk semua kebutuhan. Pemilihan harus mempertimbangkan kondisi mata, aktivitas, kebutuhan koreksi, kemampuan pemeliharaan, dan preferensi pengguna.
Implikasi Perkembangan Teknologi bagi Refraksionis Optisien
Perkembangan teknologi menuntut Refraksionis Optisien untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan secara berkelanjutan. Penguasaan refraksi saja tidak cukup apabila tidak disertai pemahaman mengenai material, desain optik, parameter pemasangan, dan bukti klinis.
Pada pelayanan lensa kacamata, kemampuan membaca resep dan menentukan material perlu disertai pemahaman mengenai indeks refraksi, nilai Abbe, desain asferis, freeform, serta pengukuran parameter pemakaian. Pada lensa progresif, ketepatan PD, fitting height, posisi bingkai, dan kebutuhan visual merupakan bagian penting dari keberhasilan koreksi.
Pada pelayanan lensa kontak, pemahaman harus mencakup karakteristik material, permeabilitas oksigen, modulus, wettability, desain, parameter fitting, serta kondisi permukaan mata. Evaluasi sentrasi, pergerakan, dan respons kornea perlu dilakukan sesuai kompetensi dan kewenangan praktik.
Untuk teknologi pengendalian miopia, Refraksionis Optisien perlu memahami perbedaan antara lensa koreksi konvensional dan lensa yang dirancang untuk mengendalikan progresivitas miopia. Pemantauan hasil tidak cukup hanya berdasarkan perubahan ukuran refraksi. Pengukuran panjang aksial, apabila tersedia dan sesuai indikasi, dapat memberikan informasi tambahan mengenai perkembangan bola mata.
Selain itu, pemahaman terhadap bukti ilmiah diperlukan agar rekomendasi tidak hanya didasarkan pada klaim pemasaran. Produk dengan teknologi baru belum tentu memiliki bukti klinis yang setara dengan teknologi lain. Refraksionis Optisien perlu menilai desain penelitian, jumlah peserta, lama pemantauan, hasil klinis, serta keterbatasan penelitian sebelum menyampaikan manfaat kepada pengguna.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi lensa kacamata dan lensa kontak telah memperluas pilihan koreksi penglihatan, mulai dari peningkatan kualitas optik dan kenyamanan hingga pengembangan teknologi untuk pengendalian progresivitas miopia.
Pada lensa kacamata, kemajuan terlihat melalui material dengan karakteristik berbeda, desain asferis dan freeform, lensa progresif individual, serta desain khusus pengendalian miopia. Pada lensa kontak, perkembangan mencakup silikon hidrogel, sistem penggantian harian, desain torik dan multifokal, ortokeratologi, serta penelitian lensa pintar untuk aplikasi biomedis.
Meskipun inovasi terus berkembang, keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh teknologi semata. Ketepatan pemeriksaan, pemilihan desain, kesesuaian material, pengukuran parameter, edukasi, dan pemantauan tetap menjadi faktor utama.
Bagi Refraksionis Optisien, memahami perkembangan teknologi secara kritis merupakan bagian dari kompetensi profesional. Rekomendasi lensa harus didasarkan pada kebutuhan visual individu, bukti ilmiah, karakteristik produk, serta pertimbangan keselamatan pengguna.
Daftar Pustaka
- Li J, Wu Y, He M. (2026). Design of Progressive Addition Lens for Presbyopia: A Systematic Review. Ophthalmic and Physiological Optics, 46, 395–403. https://doi.org/10.1007/s44402-026-00056-w
- D’Andrea L, Rinaldi M, Piscopo R, et al. (2026). Efficacy of spectacle lenses for myopia control: a meta-analysis of randomised controlled trials. British Journal of Ophthalmology, 110(2), 125–132. https://doi.org/10.1136/bjo-2025-327629
- Walsh K, Jones LW, Morgan P, Papas EB, Sulley A. (2025). Topical review: Twenty-five years of silicone hydrogel soft contact lenses. Optometry and Vision Science, 102(6), 361–374. https://doi.org/10.1097/OPX.0000000000002267
- New Designs of Spectacle Lenses for the Control of Myopia Progression: A Scoping Review. (2024). Journal of Clinical Medicine, 13(4), 1157. https://doi.org/10.3390/jcm13041157
- Optical interventions for myopia control. (2023). Eye, artikel tinjauan. Tersedia melalui PubMed Central: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10858277/
- Gupta A, et al. (2025). Comparative evaluation of different (peripheral defocus based) spectacle designs in preventing myopia progression: A double-blinded randomised clinical trial. Ophthalmic and Physiological Optics, 45(6), 1505–1511. https://doi.org/10.1111/opo.13548
- Xu H, Chen M, Ye L, et al. (2025). Orthokeratology, 0.04% Atropine, and 0.01% Atropine for Myopia Control: A Randomized Clinical Trial. JAMA Ophthalmology, 143(9), 731–738. https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2025.2321
- Kartikawati A, Haryanti S, Sahel, Putri EH. (2026). Perkembangan Prinsip Optika dan Material Lensa Kontak dalam Koreksi Kelainan Refraksi: Tinjauan Literatur Lima Tahun Terakhir (2021–2026). Schrodinger Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Fisika, 7(1), 52–60. https://doi.org/10.30998/sch.v7i1.2162
- Wu KY, Dave A, Carbonneau M, Tran SD. (2024). Smart contact lenses in ophthalmology: Innovations, applications, and future prospects. Micromachines, 15(7), 856. https://doi.org/10.3390/mi15070856
- Corina F, Wesnita A, Elfia M. (2024). Pengaruh lama pemakaian lensa kontak lunak dengan kejadian dry eyes syndrome pada mata pelanggan Optik Dipovision. Journal of Optometry, Health, and Research, 1(1), 1–6.
