Penglihatan binokular tidak hanya kemampuan melihat menggunakan kedua mata. Fungsi ini melibatkan koordinasi gerakan mata, mekanisme akomodasi, integrasi informasi visual oleh otak, serta kemampuan mempertahankan fusi. Bagi optometris, pemahaman tentang penglihatan binokular diperlukan untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan secara menyeluruh, mengenali gangguan vergence dan akomodasi, serta menentukan kapan pasien memerlukan intervensi optometrik atau rujukan kepada dokter spesialis mata. Artikel ini membahas dasar fisiologis, pemeriksaan klinis, interpretasi temuan, dan prinsip penatalaksanaan penglihatan binokular berdasarkan publikasi ilmiah dalam dan luar negeri.
Penglihatan binokular (binocular vision) merupakan fungsi sistem visual yang memungkinkan kedua mata bekerja secara terkoordinasi. Informasi visual yang diterima retina kanan dan kiri diproses oleh sistem saraf pusat untuk menghasilkan persepsi visual yang terintegrasi.
Pada kondisi tertentu, penggunaan kedua mata secara bersamaan dapat meningkatkan persepsi kedalaman dan kualitas informasi visual. Namun, keberadaan dua mata yang dapat melihat tidak otomatis berarti seseorang memiliki fungsi binokular yang normal. Secara klinis, penglihatan binokular melibatkan tiga komponen utama.
1. Komponen sensoris
Komponen sensoris berkaitan dengan pemrosesan dan penggabungan informasi visual dari kedua mata. Fusi sensoris memungkinkan otak mengintegrasikan dua citra retina menjadi satu persepsi visual. Apabila terdapat perbedaan citra yang terlalu besar, ketidaksejajaran mata, atau gangguan perkembangan sistem visual, fusi dapat terganggu. Pada sebagian pasien, sistem saraf pusat dapat menekan informasi dari salah satu mata (suppression) untuk menghindari diplopia.
2. Komponen motorik
Komponen motorik melibatkan koordinasi otot ekstraokular dan sistem saraf yang mengendalikan arah pandangan kedua mata. Gerakan vergence merupakan bagian penting dari sistem ini. Konvergensi mengarahkan kedua mata ke dalam ketika memandang objek dekat, sedangkan divergensi mengarahkan kedua mata menjauh satu sama lain ketika kebutuhan fiksasi berubah. Ketidakmampuan mempertahankan koordinasi tersebut dapat menimbulkan gangguan penglihatan binokular, meskipun ketajaman penglihatan setiap mata relatif baik.
3. Persepsi kedalaman atau stereopsis
Stereopsis merupakan kemampuan mempersepsikan kedalaman berdasarkan perbedaan posisi citra suatu objek pada kedua retina, yang dikenal sebagai disparitas binokular. Stereopsis merupakan salah satu fungsi tingkat lanjut penglihatan binokular. Hasil pemeriksaan stereopsis yang abnormal dapat menunjukkan gangguan fungsi binokular, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan diagnosis.
Ketiga komponen tersebut saling berkaitan. Oleh karena itu, pemeriksaan penglihatan binokular sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu hasil tes.
Hubungan Akomodasi dan Vergence
Akomodasi dan vergence merupakan dua mekanisme yang berbeda, tetapi memiliki hubungan fungsional yang erat. Akomodasi adalah perubahan daya optik mata untuk mempertahankan fokus objek pada retina. Sementara itu, vergence merupakan perubahan sudut relatif kedua mata untuk mempertahankan fiksasi binokular.
Ketika seseorang melihat objek dekat, kebutuhan akomodasi dan konvergensi umumnya meningkat secara bersamaan. Hubungan ini melibatkan mekanisme akomodasi-konvergensi dan konvergensi-akomodasi.
Gangguan pada salah satu mekanisme dapat memengaruhi mekanisme lainnya. Misalnya, gangguan akomodasi dapat menyertai insufisiensi konvergensi. Sebaliknya, gangguan vergence dapat memengaruhi kenyamanan aktivitas melihat dekat. Temuan tersebut menegaskan pentingnya mengevaluasi akomodasi dan vergence secara terpadu, bukan sebagai dua fungsi yang sepenuhnya terpisah. Gangguan Penglihatan Binokular yang Perlu Dikenali
Berikut beberapa gangguan yang relevan dalam praktik optometri.
| GANGGUAN | KARAKTERISTIK KLINIS | HAL YANG PERLU DIEVALUASI |
|---|---|---|
| 01 Insufisiensi Konvergensi
Convergence insufficiency
|
Kesulitan mencapai atau mempertahankan konvergensi yang diperlukan saat melihat objek dekat. | • Near point of convergence (NPC) • Positive fusional vergence (PFV) • Heteroforia dekat • Gejala pasien |
| 02 Eksophoria
|
Kecenderungan deviasi mata ke arah luar ketika fusi binokular dilepaskan. | • Besar deviasi jauh dan dekat • Kemampuan fusi • Gejala dan respons kompensasi |
| 03 Esoforia
|
Kecenderungan deviasi mata ke arah dalam ketika fusi binokular dilepaskan. | • Besar deviasi • Respons vergence • Status refraksi • Fungsi akomodasi |
| 04 Gangguan Akomodasi
|
Kesulitan memenuhi kebutuhan pemfokusan visual sesuai jarak objek. | • Amplitudo akomodasi • Fasilitas akomodasi • Respons akomodasi • Refraksi |
| 05 Strabismus
|
Ketidaksejajaran mata yang manifes dan dapat memengaruhi fungsi binokular. | • Arah dan besar deviasi • Motilitas mata • Fungsi sensoris • Refraksi dan kemungkinan ambliopia |
| 06 Gangguan Fusi Sensoris
|
Gangguan kemampuan menggabungkan informasi visual dari kedua mata menjadi satu persepsi. | • Supresi • Stereopsis • Korespondensi retina • Kemungkinan penyebab neurologis atau oftalmologis |
American Academy of Ophthalmology, Esotropia and Exotropia Preferred Practice Pattern. Baca pedoman klinis AAO →
Pemeriksaan Binokular dalam Praktik Optometri
Pemeriksaan penglihatan binokular perlu disesuaikan dengan keluhan dan temuan awal. Tidak semua pasien memerlukan seluruh rangkaian tes, tetapi pemeriksaan yang dipilih harus cukup untuk menjawab pertanyaan klinis yang relevan.
1. Anamnesis visual
Anamnesis membantu menentukan jenis pemeriksaan yang dibutuhkan.
Informasi yang perlu digali meliputi:
- Keluhan penglihatan kabur atau ganda.
- Sakit kepala atau rasa tidak nyaman ketika membaca.
- Kesulitan mempertahankan fokus pada objek dekat.
- Riwayat strabismus atau ambliopia.
- Riwayat penggunaan kacamata dan perubahan resep.
- Riwayat trauma kepala, penyakit sistemik, dan penggunaan obat tertentu.
- Waktu munculnya keluhan, durasi, frekuensi, serta faktor yang memperburuknya.
Gejala seperti sakit kepala dan mata lelah tidak spesifik untuk gangguan binokular. Keluhan tersebut juga dapat berkaitan dengan kelainan refraksi, gangguan permukaan mata, atau penyebab lain.
Karena itu, diagnosis tidak boleh hanya didasarkan pada keluhan subjektif.
2. Pemeriksaan ketajaman penglihatan dan refraksi
Ketajaman penglihatan perlu diukur pada masing-masing mata dan, bila relevan, secara binokular. Pemeriksaan refraksi dilakukan untuk mengidentifikasi miopia, hipermetropia, astigmatisme, dan presbiopia sesuai usia serta kebutuhan pasien.
Pada anak-anak atau pasien dengan dugaan gangguan akomodasi, hasil refraksi non-sikloplegik dapat dipengaruhi oleh akomodasi aktif. Pemeriksaan refraksi sikloplegik dapat dipertimbangkan oleh tenaga medis yang berwenang sesuai indikasi klinis.
Penting untuk diingat bahwa kelainan refraksi dan gangguan binokular dapat terjadi bersamaan. Ketajaman penglihatan yang baik setelah koreksi tidak otomatis menyingkirkan gangguan vergence atau akomodasi.
3. Cover test
Cover test merupakan pemeriksaan penting untuk menilai kesejajaran mata. Pemeriksaan dapat meliputi cover-uncover test dan alternate cover test, pada jarak jauh serta dekat sesuai kebutuhan.
Secara umum:
- Cover-uncover test membantu mengidentifikasi deviasi manifes.
- Alternate cover test memisahkan fusi kedua mata dan membantu mengungkap total deviasi yang terukur dalam kondisi disosiasi.
Jika diperlukan, besar deviasi dapat diukur menggunakan prisma. Interpretasi harus mempertimbangkan koreksi optik yang digunakan, jarak fiksasi, posisi pandangan, kemampuan pasien mengikuti target, serta kemungkinan adanya deviasi inkomitan.
4. Near point of convergence
Near point of convergence (NPC) digunakan untuk menilai kemampuan sistem visual mencapai konvergensi pada target dekat. Dalam pemeriksaan ini, target digerakkan mendekati pasien sesuai prosedur pemeriksaan yang digunakan. Pemeriksa mencatat titik ketika konvergensi tidak lagi dapat dipertahankan atau diplopia muncul, serta titik pemulihan apabila protokol mencakup pengukuran tersebut.
Hasil NPC yang menjauh dapat ditemukan pada insufisiensi konvergensi, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis secara mandiri. Hasil perlu diinterpretasikan bersama gejala, heteroforia, positive fusional vergence, dan temuan lain.
5. Positive fusional vergence
Positive fusional vergence (PFV) menggambarkan kemampuan sistem visual meningkatkan konvergensi untuk mempertahankan fusi. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan prisma base-out sesuai prosedur yang berlaku. Nilai pemeriksaan perlu dibaca bersama besar heteroforia, respons pasien, serta kriteria interpretasi yang digunakan. Satu nilai prisma saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan fungsi binokular.
6. Pemeriksaan akomodasi dan stereopsis
Pemeriksaan akomodasi dapat mencakup amplitudo, fasilitas, dan respons akomodasi sesuai indikasi. Stereopsis dapat diperiksa menggunakan tes stereoskopik yang sesuai dengan usia dan kemampuan pasien. Hasil yang buruk perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan ketajaman penglihatan kedua mata, kualitas koreksi optik, supresi, serta kemungkinan strabismus.
Prinsip utama: setiap tes memberikan informasi tentang komponen fungsi visual tertentu. Diagnosis klinis yang baik dibangun dari kesesuaian berbagai temuan, bukan dari satu hasil pemeriksaan yang berdiri sendiri.
Penatalaksanaan: Berdasarkan Diagnosis dan Bukti Ilmiah
Penatalaksanaan gangguan penglihatan binokular harus mempertimbangkan penyebab, tingkat keparahan, gejala, usia, tujuan fungsional, dan bukti efektivitas intervensi. Tidak ada satu metode yang dapat digunakan untuk seluruh gangguan binokular.
Koreksi refraksi
Koreksi refraksi yang sesuai merupakan bagian penting dalam evaluasi dan penatalaksanaan gangguan binokular. Kelainan refraksi yang belum terkoreksi dapat memengaruhi kualitas citra retina dan interaksi akomodasi-vergence. Namun, perubahan resep tidak selalu menyelesaikan gangguan binokular yang mendasarinya.
Pada pasien dengan dugaan gangguan akomodasi atau strabismus, penentuan koreksi perlu mempertimbangkan hasil pemeriksaan menyeluruh dan kompetensi profesional pemeriksa.
Terapi vergence dan akomodasi
Terapi vergence-akomodasi dapat dipertimbangkan pada diagnosis tertentu, terutama insufisiensi konvergensi simptomatik. Bukti ilmiah untuk intervensi ini perlu dibaca berdasarkan populasi penelitian dan luaran yang dinilai.
Uji klinis teracak oleh Convergence Insufficiency Treatment Trial Study Group, yang diterbitkan dalam Archives of Ophthalmology pada 2008, melibatkan 221 anak berusia 9–17 tahun dengan insufisiensi konvergensi simptomatik.
Penelitian tersebut membandingkan empat pendekatan: terapi vergence-akomodasi berbasis klinik dengan latihan pendukung di rumah, terapi plasebo berbasis klinik, latihan pencil push-ups di rumah, serta terapi vergence-akomodasi berbasis komputer di rumah dengan latihan pendukung.
Setelah 12 minggu, kelompok terapi berbasis klinik menunjukkan perbaikan gejala serta ukuran NPC dan PFV yang lebih baik dibandingkan kelompok pembanding. Hasil ini mendukung efektivitas intervensi tersebut untuk populasi dan kondisi yang diteliti.
Publikasi penelitian: Randomized Clinical Trial of Treatments for Symptomatic Convergence Insufficiency in Children.
Tinjauan sistematis Cochrane tahun 2020 yang mencakup enam uji klinis pada populasi anak, dengan total 968 peserta, juga menemukan bukti berkepastian tinggi bahwa terapi vergence-akomodasi berbasis klinik dengan latihan pendukung di rumah lebih efektif daripada beberapa pendekatan pembanding dalam mencapai keberhasilan berdasarkan ukuran klinis konvergensi. Namun, hasil tersebut tidak boleh digeneralisasi menjadi klaim bahwa seluruh bentuk terapi penglihatan efektif untuk semua gangguan mata.
Sumber: Cochrane — Interventions for convergence insufficiency.
Pentingnya membedakan perbaikan fungsi visual dan kemampuan membaca
Salah satu hal yang perlu diperhatikan praktisi adalah perbedaan antara perbaikan parameter klinis dan perbaikan kemampuan fungsional. Uji klinis CITT-ART yang diterbitkan dalam Optometry and Vision Science pada 2019 mengevaluasi terapi vergence-akomodasi berbasis klinik pada anak berusia 9–14 tahun dengan insufisiensi konvergensi simptomatik.
Hasilnya menunjukkan bahwa terapi tersebut tidak lebih unggul daripada terapi plasebo dalam meningkatkan skor pemahaman bacaan pada tes standar setelah 16 minggu. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada luaran membaca sekunder yang dievaluasi.
Temuan ini tidak meniadakan manfaat terapi terhadap fungsi konvergensi. Sebaliknya, hasil tersebut menunjukkan bahwa perbaikan fungsi konvergensi tidak otomatis menghasilkan peningkatan kemampuan membaca yang terukur.
Sumber: Effect of Vergence/Accommodative Therapy on Reading in Children with Convergence Insufficiency.
Prisma dan intervensi lainnya
Lensa prisma dapat digunakan pada indikasi tertentu untuk membantu mengatasi diplopia atau mengurangi tuntutan vergence. Namun, penggunaan prisma harus didasarkan pada pemeriksaan yang sesuai, jenis deviasi, gejala, dan respons pasien. Prisma tidak dapat dianggap sebagai solusi universal untuk semua bentuk heteroforia atau insufisiensi konvergensi.
Pada pasien dengan strabismus, penatalaksanaan dapat melibatkan koreksi optik, terapi ambliopia jika terdapat indikasi, prisma pada kondisi tertentu, atau tindakan pembedahan.
Keputusan mengenai terapi medis dan pembedahan berada dalam lingkup tenaga medis yang berwenang. Optometris berperan dalam pemeriksaan sesuai kompetensi, dokumentasi temuan, edukasi, pemantauan yang sesuai, dan rujukan.
Temuan dari Literatur Indonesia
Publikasi Indonesia juga memberikan kontribusi dalam pembahasan gangguan konvergensi. Artikel berjudul Convergence Insufficiency yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Andalas pada 2018 membahas karakteristik klinis, pemeriksaan, serta pilihan penatalaksanaan insufisiensi konvergensi. Artikel tersebut menjelaskan penggunaan NPC, latihan konvergensi, dan beberapa pendekatan terapi.
Publikasi ini berguna sebagai bahan pembelajaran berbahasa Indonesia, terutama untuk memahami istilah klinis dan pendekatan pemeriksaan.
Namun, artikel tinjauan tidak memiliki bobot bukti yang sama dengan uji klinis teracak atau tinjauan sistematis berkualitas tinggi. Pernyataan mengenai efektivitas terapi sebaiknya dibandingkan dengan penelitian primer dan tinjauan sistematis yang lebih kuat.
Sumber: Jurnal Kesehatan Andalas — Convergence Insufficiency.
Penelitian Indonesia lainnya, Jalur Saraf Vergence: Systematic Literature Review, diterbitkan dalam Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran pada 2025. Artikel ini membahas jalur saraf yang terlibat dalam gerakan vergence serta kaitannya dengan sejumlah gangguan neurologis dan visual.
Penelitian tersebut dapat digunakan sebagai pengantar neurofisiologi vergence. Akan tetapi, karena tinjauannya mencakup lima artikel, kesimpulannya perlu dibaca sesuai cakupan literatur yang dianalisis dan tidak dianggap sebagai pedoman klinis tersendiri.
Sumber: Jalur Saraf Vergence: Systematic Literature Review.
Kapan Pasien Perlu Dirujuk?
Optometris perlu mengenali bahwa tidak semua keluhan yang menyerupai gangguan binokular berasal dari kelainan fungsional yang tidak berbahaya. Rujukan kepada dokter spesialis mata diperlukan ketika temuan pemeriksaan menunjukkan kondisi di luar lingkup penatalaksanaan optometrik atau memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
Perhatian khusus diperlukan pada keadaan berikut:
- Diplopia yang baru muncul, terutama jika terjadi mendadak.
- Strabismus yang baru muncul pada orang dewasa.
- Gangguan motilitas mata atau keterbatasan gerakan bola mata yang tidak dapat dijelaskan.
- Penurunan tajam penglihatan yang tidak sesuai dengan hasil refraksi.
- Keluhan visual setelah trauma kepala.
- Diplopia disertai nyeri kepala berat, kelopak mata turun, perbedaan ukuran pupil, kelemahan anggota gerak, atau gejala neurologis lainnya. Diplopia mendadak yang disertai tanda neurologis atau gejala berat memerlukan evaluasi medis segera. Pasien tidak seharusnya diminta menunggu hasil latihan penglihatan sebelum memperoleh pemeriksaan yang diperlukan.
Pedoman oftalmologi menekankan perlunya mempertimbangkan penyebab neurologis, paralitik, dan restriktif pada pasien dengan ketidaksejajaran mata. Referensi: American Academy of Ophthalmology — Esotropia and Exotropia Preferred Practice Pattern.
Kesimpulan
Penglihatan binokular merupakan hasil interaksi sistem sensoris, motorik, akomodasi, dan pemrosesan visual di otak. Bagi optometris, pemahaman terhadap interaksi tersebut penting untuk membedakan kelainan refraksi dari gangguan vergence, akomodasi, fusi, dan kesejajaran mata.
Pemeriksaan yang sistematis perlu menggabungkan anamnesis, ketajaman penglihatan, refraksi, cover test, NPC, PFV, serta pemeriksaan tambahan sesuai indikasi. Hasil setiap pemeriksaan harus ditafsirkan dalam konteks klinis dan tidak digunakan secara terpisah untuk menetapkan diagnosis.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa terapi vergence-akomodasi berbasis klinik dapat memberikan manfaat pada anak dengan insufisiensi konvergensi simptomatik. Namun, efektivitas intervensi tidak dapat digeneralisasi ke seluruh gangguan binokular, dan perbaikan parameter klinis tidak selalu berarti perbaikan kemampuan membaca.
Praktik optometri yang bertanggung jawab mengutamakan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, pemilihan intervensi berdasarkan bukti, dokumentasi hasil, serta rujukan tepat waktu ketika ditemukan tanda bahaya atau dugaan penyakit yang memerlukan evaluasi medis.
Referensi Utama
- Convergence Insufficiency Treatment Trial Study Group. Randomized Clinical Trial of Treatments for Symptomatic Convergence Insufficiency in Children. Archives of Ophthalmology. 2008;126(10):1336–1349.
- Scheiman M, et al. Effect of Vergence/Accommodative Therapy on Reading in Children with Convergence Insufficiency: A Randomized Clinical Trial. Optometry and Vision Science. 2019;96:836–849.
- Cochrane Collaboration. Interventions for convergence insufficiency: a network meta-analysis. 2020.
- American Academy of Ophthalmology. Esotropia and Exotropia Preferred Practice Pattern.
- Convergence Insufficiency. Jurnal Kesehatan Andalas. 2018;7(Supplement 3).
- Azka ZK, Kurniato AD. Jalur Saraf Vergence: Systematic Literature Review. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran. 2025;4(1):127–136.
